Kami telah mengurangi biaya kami sebesar 30 persen dengan AWS, sekaligus mendapatkan satu set aplikasi cloud open-source yang lebih luas dan uptime sebesar 99,98 persen.
Lodewijk Tanamal Chief Technology Officer, Bhinneka

Diluncurkan 25 tahun yang lalu, Bhinneka adalah ritel online di Indonesia yang telah merangkul e-commerce. Perusahaan ini sekarang menjalankan situs bisnis ke konsumen (b2c), bisnis-ke-bisnis (b2b), dan situs bisnis-ke-pemerintah (b2g), menjual perlengkapan kantor ke pelanggan b2b dan b2g dan berbagai ragam barang termasuk pakaian, peralatan dan komputer untuk pelanggan b2c-nya.

Perusahaan ini telah mengembangkan arsitektur TI hybrid yang terintegrasi dengan Microsoft Azure. Untuk mendorong inovasi, Bhinneka perlu menyiapkan biaya dan sumber daya untuk proyek artificial intelligence (AI) dan machine learning (ML). Ini membutuhkan Bhinneka beralih ke open-source software.

Untuk mendukung tujuannya, Bhinneka bermigrasi dari Microsoft Azure ke Amazon Web Services (AWS). Lodewijk Tanamal, Chief Technology Officer di Bhinneka, menjelaskan, "AWS memberi kami akses yang lebih baik untuk open-source software yang hemat biaya, sehingga memungkinkan kami untuk berinovasi."

Tim internal TI di Bhinneka dapat dengan mudah memigrasikan TI berbasis cloud-nya ke AWS Cloud karena intuisi AWS, menurut Lodewijk. Perusahaan ini sekarang menggunakan Amazon Elastic Compute Cloud (Amazon EC2) untuk menjalankan situs webnya, sistem pembayaran, dan aplikasi lini bisnisnya. Lebih jauh lagi, dengan Amazon Kinesis dan Amazon QuickSight, Bhinneka menganalisis data dari situs web untuk memahami perilaku konsumen dengan lebih baik dan meningkatkan kegunaan situs untuk meningkatkan penjualan.

Dengan bermigrasi ke AWS, Bhinneka telah mengurangi overhead TI-nya. Lodewijk mengatakan, "Kami telah mengurangi biaya kami sebesar 30 persen dengan AWS, sekaligus mendapatkan satu set aplikasi cloud open-source yang lebih luas dan uptime sebesar 99,98 persen."

Bhinneka juga telah mempercepat waktu pengembangan perangkat lunak menjadi setengahnya setelah berpindah dari Microsoft Azure ke AWS. Lodewijk mengatakan, "Dengan menggunakan perangkat seperti AWS Lambda, kami telah mempercepat proses pengembangan dan dapat merilis aplikasi baru 50 persen lebih cepat." Hal ini mampu meluangkan sumber daya untuk mengembangkan aplikasi prediksi inventaris yang baru dan chatbots pada kerangka kerja TensorFlow ML.

Untuk mempelajari lebih lanjut, kunjungi Data Lake dan Analisis di AWS.