AWS Public Sector Blog

Transforming digital education in Indonesia

Jakarta city skyline

September 8, 2021: Amazon Elasticsearch Service has been renamed to Amazon OpenSearch Service. See details.

Click here for Bahasa Indonesian version.

In Indonesia, educational institutions like educational technology (EdTech) companies and universities are using the cloud to transform education. By migrating to Amazon Web Services (AWS), these organizations are able to deliver learning resources to millions of users, innovate at scale, and take advantage of the no-cost AWS education programs like AWS Educate and AWS Academy to enhance their curriculums.

Serving more than 2.5 million users with a lean six member team is a curated education platform founded in 2019. provides a variety of accredited learning programs from early childhood to secondary schools, teacher and other professional development. Collaborating with established schools, vocational institutions and industry players, all programs in is a blend of online and offline experiences that are designed to scale quality learning to everyone.

They have a common goal and vision to help Indonesian children by providing quality educational services and digital integrated learning with a personalized and flexible curriculum structure. To achieve this in a country the size of Indonesia, must leverage technology. The organization is also challenged by hiring a quality technology team, particularly in their early startup stage.

To scale and serve their users, began building on AWS in November 2019, utilizing AWS Fargate as the orchestration layer, to provide high availability and scalability solutions. When combined with Amazon Elastic Compute Cloud (Amazon EC2), Amazon Relational Database Service (Amazon RDS), Amazon Elasticsearch Service, Amazon ElastiCache, and Application Load Balancer, it helped create a robust platform, which could be managed by small team. By utilizing AWS Lambda, Amazon Simple Storage Service (Amazon S3), and Amazon CloudFront, was also able to develop a video on demand feature. Within a year, they successfully scaled their product to serve more than 2.5 million users, helping them improve not only education but also access to education by also reaching rural areas, from Sabang to Merauke.

The platform reached a record breaking 12 million page views within a day in 2020, which was managed by a lean team of six employees, with one person focusing on managing AWS architecture and five team members on backend development. They also improved speed of product delivery and reduced time to market by 50% by leveraging innovative and new technologies in AWS.

“In 2021, we are ready to improve our engineering, architecture, and infrastructure to cater to ten times our target users, and provide more accessibility of quality education to students, parents, and teachers in Indonesia,” said Rhezandra Priatama, chief technology officer (CTO),

Reducing operating costs by 30-40%

IKIP PGRI Bojonegoro (Institut Keguruan dan Ilmu Kependidikan) is an institute of teacher training and education science. It aims to produce quality and professional graduates that meet the needs of society, the development of science, technology, and arts (IPTEKS) and promotes competitiveness in the region and nation.

Like most institutes in East Java, IKIP PGRI Bojonegoro aims to improve their information technology (IT) infrastructure services but faces limitations due to a lack of IT resources. IKIP PGRI Bojonegoro has four on-premise physical servers and each server has about three to five virtual servers to serve IT services, which makes it a struggle for them to scale and serve more users.

In July 2020, IKIP PGRI Bojonegoro used AWS through a hybrid architecture—migrating three of their servers over to Amazon EC2, which provides them more agility and availability with Amazon EC2 Auto Scaling.

After the migration, IKIP PGRI Bojonegoro reduced their operating costs by 30 to 40% due to the reduction of costs of hardware maintenance and electricity supply monitoring. Their IT staff can focus on operations of the application, and not worry about increasing bandwidth and CPU usage when students access the campus’s learning management system (LMS).

“Migration to the AWS cloud makes our IT life simpler, with less maintenance, less cost, and better performance,” said Boedy Irhadtanto, head of IT Infrastructure, IKIP PGRI Bojonegoro.

Improving resilience and disaster recovery

Universitas Pasundan (UNPAS) is a private tertiary institution with seven faculties, 25 undergraduate programs, seven post-graduate study programs, and three doctoral programs. With large cohorts of students, UNPAS needs to provide reliable services. UNPAS tried several other cloud providers before ultimately choosing AWS.

In 2017, UNPAS began deploying Amazon EC2 for their virtual web machines, gradually increasing the number of virtual machines to support their repository, used to store the results of student publications in the form of research reports to the final project, thesis, and dissertation. In 2018, they used Amazon S3 and Amazon CloudFront to improve their website performance by 70%.

In 2019, UNPAS experienced challenges when managing their on-premises academic server, which stores all lecture transactions and student data. Unstable electricity often resulted in hard disk devices crashing, which caused valuable data to be lost. UNPAS then decided to migrate the academic server to the AWS Cloud.

Since migrating, UNPAS no longer worries about internet connections or electricity hampering the website’s performance, with increased reliability in disaster response and disaster recovery. They also achieved cost savings on infrastructure investment, particularly server equipment and software licenses. Besides benefiting from a reduction in capital costs, they also reduced the manpower resources spent maintaining servers, freeing the IT team to spend more time innovating.

“After we moved the academic server to AWS, we benefitted from the convenience—we no longer needed to think about maintaining and managing the physical infrastructure. We can simply scale vertically and horizontally when we need to increase server capacity when transactions are high,” said Ferry Mulyanto, IT system administrator, Universitas Pasundan (UNPAS).

Discover how the education industry is transforming itself with the cloud in this e-book and learn more about the cloud for education.

Subscribe to the AWS Public Sector Blog newsletter to get the latest in AWS tools, solutions, and innovations from the public sector delivered to your inbox, or contact us.

Transformasi Pendidikan Digital di Indonesia

Jakarta city skyline

Di Indonesia, institusi pendidikan seperti perusahaan teknologi pendidikan (EdTech) dan universitas menggunakan cloud untuk mentransformasi pendidikan. Dengan bermigrasi ke Amazon Web Services (AWS) organisasi ini dapat memberikan sumber daya pembelajaran kepada jutaan pengguna, berinovasi dalam skala besar dan memanfaatkan program pendidikan AWS tanpa biaya seperti AWS Educate dan AWS Academy guna menyempurnakan kurikulum mereka.

Melayani lebih dari 2,5 juta pengguna dengan hanya enam anggota tim

Sekolah.Mu adalah platform pendidikan yang didirikan pada tahun 2019. Sekolah.Mu menyediakan berbagai program pembelajaran terakreditasi dari anak usia dini hingga sekolah menengah, guru dan pengembangan profesional lainnya. Berkolaborasi dengan sekolah unggul, lembaga kejuruan dan pelaku industri semua program di Sekolah.Mu adalah perpaduan pengalaman online dan offline yang dirancang untuk meningkatkan pembelajaran berkualitas bagi semua orang.

Mereka memiliki tujuan dan visi yang sama guna membantu anak-anak Indonesia dengan menyediakan layanan pendidikan berkualitas dan pembelajaran terintegrasi digital dengan struktur kurikulum yang personal dan fleksibel. Untuk mencapai ini di negara seperti Indonesia, Sekolah.Mu harus memanfaatkan teknologi. Mereka juga tertantang dengan mempekerjakan tim teknologi berkualitas terutama pada tahap awal startup.

Untuk menskalakan dan melayani penggunanya Sekolah.Mu mulai menggunakan AWS pada November 2019, memanfaatkan AWS Fargate sebagai lapisan orkestrasi untuk memberikan solusi ketersediaan dan skalabilitas yang tinggi. Ketika digabungkan dengan Amazon Elastic Compute Cloud (Amazon EC2), Amazon Relational Database Service (Amazon RDS), Amazon Elasticsearch Service, Amazon ElastiCache dan Application Load Balancer  ini membantu Sekolah.Mu membuat platform yang kuat yang dapat dikelola oleh tim kecil. Dengan memanfaatkan AWS Lambda, Amazon Simple Storage Service (Amazon S3) dan Amazon CloudFront, Sekolah.Mu juga dapat mengembangkan fitur video on demand. Dalam setahun mereka berhasil meningkatkan skala produknya untuk melayani lebih dari 2,5 juta pengguna, membantu mereka meningkatkan tidak hanya pendidikan tetapi juga akses pendidikan dengan juga menjangkau daerah pedesaan dari Sabang sampai Merauke.

Platform ini mencapai rekor 12 juta tampilan halaman dalam sehari pada tahun 2020 yang dikelola oleh tim yang terdiri dari enam orang dengan satu orang berfokus pada pengelolaan arsitektur AWS dan lima anggota tim pada pengembangan backend. Mereka juga meningkatkan kecepatan pengiriman produk dan mengurangi waktu pemasaran hingga 50% dengan memanfaatkan teknologi inovatif dan baru di AWS.

“Pada tahun 2021, kami siap untuk meningkatkan teknik, arsitektur dan infrastruktur guna melayani sepuluh kali lipat dari target pengguna kami dan memberikan aksesibilitas lebih untuk pendidikan berkualitas bagi siswa, orang tua dan guru di Indonesia,” ujar Rhezandra Priatama, Chief Technology Officer (CTO), Sekolah.Mu.

Mengurangi biaya operasional hingga 30-40%

IKIP PGRI Bojonegoro (Institut Keguruan dan Ilmu Kependidikan) adalah sebuah lembaga pendidikan keguruan dan ilmu pendidikan. Tujuannya untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dan profesional yang memenuhi kebutuhan masyarakat, pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS) serta meningkatkan daya saing di daerah dan nasional.

Seperti kebanyakan lembaga di Jawa Timur, IKIP PGRI Bojonegoro bertujuan untuk meningkatkan layanan infrastruktur teknologi informasi (TI) namun menghadapi keterbatasan kurangnya sumber daya TI. IKIP PGRI Bojonegoro memiliki empat server fisik di lokasi dan setiap server memiliki sekitar tiga hingga lima server virtual untuk melayani layanan TI yang membuatnya kesulitan untuk meningkatkan skala dan melayani lebih banyak pengguna.

Pada Juli 2020, IKIP PGRI Bojonegoro menggunakan AWS melalui arsitektur hybrid — memigrasi tiga server mereka ke Amazon EC2 yang memberi mereka lebih banyak kehandalan dan ketersediaan dengan Amazon EC2 Auto Scaling.

Setelah migrasi, IKIP PGRI Bojonegoro mengurangi biaya operasional sebesar 30% hingga 40% karena berkurangnya biaya pemeliharaan perangkat keras dan pemantauan pasokan listrik. Staf TI mereka dapat fokus pada pengoperasian aplikasi dan tidak perlu khawatir tentang peningkatan bandwidth dan penggunaan CPU saat siswa mengakses sistem pengelolaan pembelajaran (Learning Management System/LMS) kampus.

“Migrasi ke cloud AWS membuat kehidupan TI kami lebih sederhana dengan lebih sedikit perawatan, lebih sedikit biaya dan kinerja yang lebih baik,” kata Boedy Irhadtanto, Kepala Infrastruktur TI, IKIP PGRI Bojonegoro.

Meningkatkan ketahanan dan pemulihan bencana

Universitas Pasundan (UNPAS) merupakan perguruan tinggi swasta dengan tujuh fakultas, 25 program sarjana, tujuh program studi pasca sarjana dan tiga program doktor. Dengan jumlah siswa yang besar, UNPAS perlu menyediakan layanan yang dapat diandalkan. UNPAS mencoba beberapa penyedia cloud lainnya sebelum akhirnya memilih AWS.

Pada tahun 2017, UNPAS mulai menerapkan Amazon EC2 untuk mesin web virtual mereka secara bertahap meningkatkan jumlah mesin virtual guna mendukung repositori mereka yang digunakan untuk menyimpan hasil publikasi siswa dalam bentuk laporan penelitian tugas akhir, tesis dan disertasi. Pada tahun 2018, mereka menggunakan Amazon S3 dan Amazon CloudFront untuk meningkatkan kinerja situs web mereka hingga 70%.

Pada tahun 2019, UNPAS mengalami tantangan saat mengelola server akademik on-premise miliknya yang menyimpan semua transaksi perkuliahan dan data mahasiswa. Listrik yang tidak stabil sering kali mengakibatkan perangkat hard disk mogok yang menyebabkan hilangnya data berharga. UNPAS kemudian memutuskan untuk memigrasi server akademik ke AWS Cloud.

Sejak bermigrasi, UNPAS tidak lagi perlu mengkhawatirkan koneksi internet atau listrik yang menghambat kinerja situs web dengan peningkatan keandalan dalam tanggap dan pemulihan bencana. Mereka juga mencapai penghematan biaya pada investasi infrastruktur terutama pada perangkat server dan lisensi perangkat lunak. Selain mendapatkan keuntungan dari pengurangan biaya modal, mereka juga mengurangi sumber daya yang dihabiskan dalam pemeliharaan server serta memberikan  tim TI lebih banyak waktu guna  berinovasi.

“Setelah kami memindahkan server akademik ke AWS, kami mendapatkan keuntungan dari kenyamanan — kami tidak perlu lagi memikirkan tentang memelihara dan mengelola infrastruktur fisik. Kami cukup menskalakan secara vertikal dan horizontal ketika kami perlu meningkatkan kapasitas server saat transaksi tinggi,” ujar Ferry Mulyanto, administrator sistem TI, Universitas Pasundan (UNPAS).

Temukan bagaimana industri pendidikan mengubah dirinya sendiri dengan cloud dalam e-book ini dan pelajari lebih lanjut tentang cloud untuk pendidikan.